Rahmat Nusantara
Menjelang senja, saya duduk di haluan Kapal Jelatik yang sedang membelah lautan menuju Pekanbaru. Angin berembus pelan, ombak bergulung tanpa suara yang gaduh, sementara matahari perlahan turun meninggalkan langit dengan semburat jingga yang menenangkan. Pada saat seperti itu, laut seolah bukan sekadar hamparan air, melainkan sebuah ruang belajar yang begitu luas.
Saya menyadari bahwa alam tidak pernah terburu-buru. Matahari tidak tergesa-gesa tenggelam, namun ia selalu tiba pada waktunya. Ombak pun tidak pernah memaksa dirinya menjadi besar, tetapi tetap setia datang silih berganti. Semuanya berjalan sesuai ketetapan dan iramanya masing-masing.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa dalam menjalani hidup saya sering kali ingin segala sesuatu terjadi secepat mungkin? Mengapa saya begitu mudah gelisah ketika harapan belum menjadi kenyataan? Padahal, alam telah mengajarkan bahwa setiap proses memiliki waktunya sendiri. Tidak semua hal harus segera terjadi, sebab setiap perjalanan membutuhkan kesabaran.
Dari haluan bahtera itu saya belajar bahwa hidup bukan tentang menjadi yang paling cepat, melainkan tentang tetap berada di jalur yang benar. Kapal tidak melawan ombak dengan kemarahan, tetapi menyesuaikan arah agar tetap sampai ke tujuan. Mungkin begitulah seharusnya manusia menghadapi ujian; bukan terus-menerus mengutuk badai, melainkan belajar mengendalikan kemudi hati.
Dari renungan sederhana itu, saya memahami bahwa alam menyimpan banyak pesan tersirat dan pelajaran yang berharga. Tugas manusialah menggunakan akal dan pikirannya untuk membaca setiap tanda yang terbentang di hadapan mata, sehingga setiap perjalanan tidak hanya mengantarkan kita ke sebuah tujuan, tetapi juga menghadirkan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.