PANTANG LARANG (Bahagian Dua: Malam yang Sial)


Pagi itu suasana sekolah masih lengang. Angin berembus pelan melewati lorong kelas yang belum ramai. Rudi baru saja selesai meletakkan tasnya ketika Arip datang menghampiri dengan wajah pucat.


“Rud, ikut aku ke kantor Buk Ema sebentar,” ucap Arip lirih.


Rudi mengernyitkan dahi.

“Untuk apa? Kamu kenapa?”

“Sudahlah, ikut saja dulu.”

Tanpa banyak bertanya, Rudi mengikuti langkah Arip menuju kantor guru. Namun di tengah perjalanan, Rudi melihat sesuatu yang membuatnya terkejut. Jari telunjuk tangan kanan Arip dibalut kain sapu tangan yang sudah dipenuhi bercak merah.


“Ya Allah, Rip! Tanganmu kenapa?” tanya Rudi panik.


Arip hanya menunduk.

“Darahnya dari tadi belum berhenti.”


Sesampainya di kantor, Buk Ema yang sedang merapikan buku langsung berdiri kaget.


“Astaghfirullah, Arip! Cepat sini!”


Buk Ema segera membuka kotak obat. Dengan hati-hati ia membersihkan luka di jari Arip. Sesekali Arip meringis menahan perih.


“Dalam sekali lukanya,” ujar Buk Ema lembut. “Bagaimana bisa terjadi?”


Ruangan itu mendadak hening. Arip terlihat ragu untuk menjawab. Ia melirik Rudi sebentar sebelum akhirnya berbicara pelan.


“Tadi malam… saya potong kuku, Buk.”


“Potong kuku?” ulang Buk Ema.


Arip mengangguk pelan.


“Kuku saya sudah panjang. Saya ingat hari ini Senin, takut dimarahi karena kuku kotor. Jadi malam tadi saya langsung memotong kuku sebelum tidur.”


“Lalu?”


“Waktu memotong, alat pemotong kukunya tiba-tiba mengenai jari saya.” Arip menahan malu. “Awalnya cuma sedikit berdarah, jadi saya diam saja.”


Rudi membelalakkan mata.

“Jadi ini gara-gara kamu potong kuku malam-malam?”


Arip menghela napas panjang.

“Sebelumnya ibu juga sudah melarang.”


Buk Ema menghentikan tangannya sejenak.

“Ibumu bilang apa?”


Arip menirukan suara ibunya dengan pelan.


“Sudahlah, Rip. Besok pagi saja potong kukunya. Malam-malam begini pamali, nanti kena sial.”



“Tapi saya tetap memotong kuku,” lanjut Arip lesu. “Dan ternyata benar… saya jadi begini.”


Rudi langsung menggeleng keras.


“Nah kan! Orang tua dulu memang tidak sembarang melarang. Kamu melawan pamali, akhirnya kena sial.”


Arip makin tertunduk. Wajahnya murung seperti menanggung penyesalan besar.


“Saya kira cuma mitos”.


Buk Ema tersenyum kecil mendengar percakapan dua muridnya itu. Ia lalu menutup kotak obat dan duduk menghadap mereka.


“Anak-anak,” ucapnya lembut, “pamali yang disampaikan orang tua dulu sebenarnya punya makna.”


Rudi dan Arip sama-sama memperhatikan.


“rumah-rumah belum mempunyai lampu yang cukup terang”. Llanjut Buk Ema. “Lampu masih redup, bahkan ada yang hanya memakai pelita. Kalau memotong kuku malam hari, penglihatan tidak jelas. Karena itulah orang tua takut anaknya terluka.”


Arip perlahan mengangkat kepala.


“Jadi bukan karena kutukan sial, Buk?”


Buk Ema tersenyum hangat.


“Bukan begitu maksudnya. Kata ‘sial’ digunakan agar anak-anak dulu cepat menurut. Sebab kalau dijelaskan panjang lebar, kadang anak-anak malah membantah.”


Rudi mengangguk pelan.

“Oh jadi pamali itu sebenarnya bentuk nasihat?”


“Tepat sekali,” jawab Buk Ema. “Orang tua dulu menyimpan pelajaran hidup di balik larangan-larangan sederhana.”


Arip memandangi jarinya yang kini sudah dibalut rapi. Dalam hatinya muncul rasa bersalah karena telah mengabaikan nasihat ibunya.


“Nanti sepulang sekolah saya mau minta maaf sama ibu,” katanya pelan.


Buk Ema tersenyum bangga.

“Itu baru anak baik.”


Rudi pun menepuk bahu sahabatnya sambil tersenyum jahil.


jadi,i mulai sekarang jangan potong kuku tengah malam lagi. Kalau tidak, bisa-bisa satu tangan habis kau gunting.”


Arip tertawa kecil.

“Iya, iya.”


Suasana kantor mendadak hangat oleh tawa mereka bertiga.


Sejak hari itu, Rudi dan Arip mulai memahami bahwa tidak semua pamali harus dipandang sebagai takhayul semata. Di balik setiap larangan orang tua, sering tersimpan perhatian, pengalaman, dan kasih sayang yang ingin menjaga anak-anak mereka dari bahaya.

PANTANG LARANG (Bagian Satu: Disuruk Bunian)

Menjelang magrib, Topik, Sanah, Rasid, Dasir, dan Tris berjalan menuju masjid untuk melaksanakan shalat magrib berjamaah. Langit mulai berwarna jingga, sementara suara azan berkumandang lembut dari pengeras suara masjid.


Di tengah perjalanan, Topik tiba-tiba tersenyum nakal.


“Guys, bagaimana kalau nanti setelah shalat kita main suruk benteng? (Petak umpet)” bisiknya penuh semangat.


Rasid langsung menyahut, “Wah, seru itu!”


“Aku ikut!” tambah Dasir.


Namun Sanah yang terkenal penakut langsung menggeleng cepat.


“Tidak, aku tidak ikut” ucapnya pelan.


Tris tertawa kecil. “Ah, Sanah memang penakut dari dulu.”


Sanah hanya memanyunkan bibir sambil mempercepat langkah menuju masjid.



---


Seusai shalat magrib, anak-anak itu berkumpul di halaman masjid. Lampu-lampu mulai menyala, sementara suasana malam perlahan terasa sunyi. Sanah memilih duduk di teras masjid sambil memperhatikan teman-temannya.


Ustad Amin yang melihat Sanah sendirian pun mendekat.


“Sanah, kenapa tidak ikut bermain dengan yang lain?” tanyanya lembut.


Sanah menunduk sebentar sebelum menjawab,

“Mereka mau bermain suruk benteng, Ustad. Sanah takut.”


“Takut kenapa?”


“Kata orang-orang, kalau bermain malam-malam bisa diculik orang bunian…”


Mendengar itu, Ustad Amin langsung menghampiri anak-anak yang sedang bersiap bermain.


“Anak-anak,” panggil beliau.


Mereka serentak menoleh.


“Jangan bermain suruk benteng malam-malam. Nanti kalian bisa tersesat di hutan. Orang tua dulu bilang bisa diculik bunian kalau anak-anak bermain suruk benteng malam-malam.”


Topik tersenyum kecil sambil melirik teman-temannya.


“Baik, Ustad,” jawab mereka kompak.


“Bagus. Sekarang Ustad masuk dulu untuk mengisi kajian.”


“Baik, Ustad,” sahut mereka lagi.


Namun begitu Ustad Amin masuk ke dalam masjid, Topik langsung bertepuk tangan pelan.


“Nah, sekarang kita lanjut main!”


Sanah yang mendengar itu langsung berdiri.


“Eh, kalian kenapa lanjut main! Nanti benar-benar hilang!”


Topik tertawa. “Ah, Sanah. Masa percaya begituan? Mana ada bunian.”


“Iya, paling cuma cerita orang tua,” tambah Rasid.


Dasir mengangguk setuju. “Cepatlah mulai!”


Akhirnya permainan dimulai. Tris mendapat giliran pertama menjadi penjaga.


“Satu… dua… tiga…” hitung Tris sambil menutup mata di tiang masjid.


Topik, Rasid, dan Dasir langsung berlari mencari tempat persembunyian.


“…delapan… sembilan… sepuluh! Aku cari kalian!”


Malam semakin gelap. Suara jangkrik terdengar dari arah semak dan pepohonan di dekat hutan kecil belakang masjid.


Tak lama kemudian, Tris berhasil menemukan Rasid yang bersembunyi di balik pohon pisang.


“Kena kamu!” teriak Tris.


“Yahh… cepat sekali ketahuan,” keluh Rasid.


Beberapa menit kemudian Dasir juga ditemukan di belakang gudang wudu.


Tapi Topik belum juga terlihat.


“Topik!” panggil Dasir.


“Oi Topik! Keluar lah!” tambah Rasid.


Tidak ada jawaban.


Sementara itu, Topik ternyata bersembunyi di dekat semak-semak pinggir hutan. Saat sedang diam, ia mendengar suara ranting patah dari arah yang lebih dalam.


Krek… krek…


Topik menyipitkan mata.


“Siapa itu?” gumamnya.


Karena penasaran dan merasa tidak takut, ia malah berjalan mendekati suara tersebut.


“Heh! Siapa di sana?” teriaknya lagi.


Namun suara itu semakin menjauh.


Tanpa sadar Topik terus mengikuti suara itu hingga masuk semakin jauh ke dalam hutan. Lampu masjid sudah tidak terlihat lagi. Yang terdengar hanya suara angin dan dedaunan.


Topik mulai panik.


“Rasid…? Dasir…?” panggilnya pelan.


Tidak ada jawaban.


Ia mencoba berjalan kembali, tetapi arah jalan sudah tidak dikenalnya lagi. Dan ia pun tersesat dihutan.



Seusai shalat isya, Rasid, Dasir, Tris, dan Sanah dengan wajah pucat menemui Ustad Amin dan beberapa warga.


“Ustad… Topik hilang…” kata Tris hampir menangis.


“Apa?” Ustad Amin langsung berdiri.


“Kami sudah cari, tapi tidak ketemu.”


Wajah Ustad Amin berubah serius.


“Kan sudah Ustad bilang jangan bermain malam-malam! Kenapa masih kalian lakukan?”


Mereka semua tertunduk diam.


Sanah mulai menangis kecil. “Sanah sudah bilang jangan main…”


Ustad Amin menghela napas panjang.


“Sudahlah. Sekarang kalian pulang bersama orang tua kalian. Biar kami yang mencari Topik.”


Malam itu beberapa warga membawa senter dan masuk ke hutan bersama Ustad Amin.


“Topik!” teriak mereka bergantian.


Namun hutan yang gelap membuat pencarian menjadi sulit.


Menjelang subuh, akhirnya Topik ditemukan tertidur lemah di bawah pohon. Bajunya kotor dan wajahnya pucat karena kelelahan.


“Alhamdulillah, ketemu!” seru salah seorang warga.


Topik perlahan membuka mata.


“Ustad…” ucapnya lirih.


Ustad Amin membantu Topik berdiri.


“Makanya jangan keras kepala.”


Topik hanya menunduk malu.



Keesokan paginya mereka tetap pergi ke sekolah seperti biasa. Saat jam pelajaran dimulai, Rasid mengangkat tangan dan bertanya kepada Pak Rahmat.


“Pak, apa benar Topik semalam disuruk orang bunian?”


Anak-anak lain langsung ikut penasaran.


Pak Rahmat tersenyum kecil sebelum menjawab,


“Begini. Dulu orang tua membuat pantang larang supaya anak-anak tidak bermain jauh saat malam. Karena malam hari pandangan manusia terbatas.”


Beliau lalu menunjuk jendela kelas.


“Mata manusia hanya bisa melihat dengan bantuan cahaya. Saat malam, cahaya sangat sedikit. Apalagi di hutan yang tidak ada penerangan sama sekali.”


“Jadi Topik bukan diculik bunian, Pak?” tanya Tris.


“Bukan. Topik tersesat karena sulit melihat jalan dalam gelap.”


Topik menggaruk kepala sambil tersenyum malu.


“Berarti aku memang salah ya, Pak.”


Pak Rahmat mengangguk.


“Pantang larang kadang dibuat agar anak-anak lebih berhati-hati. Yang penting kita memahami maksud baik di balik nasihat itu.”


Mereka berlima pun saling berpandangan dan mengangguk pelan.


Sejak hari itu, mereka tidak pernah lagi bermain suruk benteng pada malam hari.

SENGKUNI LEDA LEDE

Suasana riuh balai desa seketika senyap saat Jamal resmi diketuk sebagai kepala desa baru. Di sudut ruangan, Atan tersenyum bangga. Ia melirik Boy, sahabat yang sudah dianggapnya saudara kandung. Dalam benak Atan, kesepakatan malam itu, setelah mereka semua selesai berkumpul di rumahnya impiannya akan segera terwujud: Jamal memimpin, dan ia akan menjadi penasihat desa.


Namun, Atan tidak pernah tahu. Begitu ia mengantar mereka pulang malam itu, Boy dan Jamal langsung melipir ke sudut gelap kampung. Di sana, sosok Lukman sudah menunggu. Lukman-lah otak di balik semua ini. Dialah yang mengatur strategi licik untuk menghancurkan pengaruh dan nama baik Atan di desa, sekaligus memuluskan jalan mereka menguasai usaha perkebunan milik Atan.

"Ingat, begitu Jamal naik, tunjuk Haikal jadi penasihat. Kita preteli pengaruh Atan sampai habis," bisik Lukman malam itu, yang langsung diangguki penuh nafsu oleh Boy dan Jamal.

Kembali ke balai desa, agenda pengangkatan penasihat dimulai. Boy mengangkat tangan dengan percaya diri. Atan merapikan bajunya, bersiap berdiri. Namun, kalimat Boy justru menjadi belati yang menikam jantungnya.

"Saya mengusulkan Haikal sebagai penasihat desa. Beliau punya visi yang sejalan dengan Pak Jamal," ucap Boy lantang.

Atan tertegun. Kepalanya mendadak pening. "Boy?" bisiknya lirih. Namun Boy tak menoleh sedikit pun. Yang lebih menyakitkan, Jamal langsung mengangguk, "Saya sepakat. Haikal adalah pilihan terbaik."

Runtuh sudah dunia Atan. Sifat Sengkuni dalam diri Boy, kelicikan Jamal, dan strategi busuk Lukman berhasil menjatuhkannya hari itu. Atan tidak mengamuk; ia hanya terdiam, merekam pengkhianatan itu dalam senyap.

Sejak hari itu, Atan menarik diri sepenuhnya dari urusan desa dan memutus hubungan dengan Boy. Pengkhianatan ini menjadi alasan bagi Atan untuk bangkit, menjadi lebih waspada, dan tidak mudah percaya pada siapa pun. Ia fokus total membangun bisnisnya sendiri secara mandiri.

Beberapa tahun berlalu, roda nasib berputar. Atan tumbuh menjadi pengusaha yang jauh lebih sukses dan kaya raya. Sebaliknya, strategi Lukman gagal total. Tanpa otak bisnis Atan, usaha yang mereka incar hancur berantakan. Kepemimpinan Jamal goyah, dan bersama Boy serta Lukman, hidup mereka kini luntang-lantung tidak tentu arah, hancur oleh keserakahan mereka sendiri.

Cerita Pendek Fiksi (mohon maaf jika ada kesamaan nama dan karakter)

Rayuan di Antara Dua Sujud

“Allahu Akbar…”


Pak Mukhsin bangkit perlahan dari sujudnya. Lututnya yang mulai renta bertumpu pelan di atas sajadah lusuh yang telah lama menemaninya. Malam itu rumah kecilnya begitu sunyi. Hanya suara kipas tua dan sesekali desir angin dari celah dinding papan yang terdengar menemani.

“Allaahummaghfirlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii…” do’a nya dengan suara lirih.

(Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah kekuranganku, berilah aku petunjuk, dan limpahkanlah rezeki kepadaku)


Belum selesai doa itu terucap, tiba-tiba air matanya jatuh. Pelan. Diam-diam. Ia menundukkan kepala lebih dalam, seakan malu memperlihatkan kesedihannya bahkan kepada dirinya sendiri.


Pak Mukhsin adalah seorang penebang kayu bakau di pesisir kampungnya. Bertahun-tahun pekerjaan itu menjadi satu-satunya cara ia menghidupi keluarga. Dari kayu-kayu bakau itulah ia menyekolahkan anak-anaknya, membeli beras, dan menyambung hidup meski serba sederhana.


Namun beberapa hari terakhir hidupnya berubah mendadak.


Tempat biasa ia mencari nafkah kini ditutup. Beberapa petugas keamanan datang tanpa banyak penjelasan. Aktivitas penebangan dilarang, dan semua pekerja diminta berhenti seketika. Tak ada waktu untuk bersiap, tak ada kepastian kapan boleh bekerja kembali.


Sejak hari itu, kegelisahan terus mengisi kepala Pak Mukhsin.


Ia bukan orang yang memiliki banyak kemampuan. Seumur hidupnya ia hanya mengenal hutan bakau, perahu kecil, dan kapak tua yang kini tergantung tak terpakai di sudut rumah. Ia mencoba mencari pekerjaan lain, tetapi usia dan keterbatasan tenaga membuat langkahnya terasa semakin sempit.


Sementara di rumah, ada istri dan anak-anak yang harus tetap makan.


Beberapa malam terakhir ia lebih banyak diam. Duduk di teras rumah memandangi gelap laut sambil memikirkan hari esok yang tak jelas arah. Kadang ia merasa takut, bukan untuk dirinya, tetapi takut jika keluarganya harus hidup dalam kekurangan.


Malam itu, setelah semua anggota keluarganya tertidur, Pak Mukhsin memilih bersujud lebih lama dari biasanya.


Dalam duduk di antara dua sujud itu, ia menggantungkan seluruh harapannya kepada Allah. Ia tidak meminta hidup mewah. Ia hanya ingin diberikan ketabahan hati, kesehatan untuk terus berusaha, dan jalan rezeki agar keluarganya tetap bisa hidup layak seperti dahulu.


Di matanya, seorang ayah boleh lelah, tetapi tidak boleh menyerah.


Air matanya kembali jatuh saat membayangkan wajah anak-anaknya yang masih membutuhkan dirinya. Namun di balik kesedihan itu, ada keyakinan kecil yang terus ia jaga: bahwa setiap kesulitan pasti Allah sisipkan jalan keluar.


Pak Mukhsin menarik napas panjang. Lalu dengan hati yang masih bergetar, ia kembali menundukkan badan.


“Allahu Akbar…” (sembari kembali bersujud)

Akhirnya, Dana Pusat untuk Daerah aka Segera di cairkan

Pagi tadi, layar televisi hingga ponsel masyarakat dipenuhi satu kabar besar dimana pemerintah akhirnya akan mencairkan dana transfer pusat untuk seluruh daerah. Setelah berbulan-bulan dinanti, harapan yang hampir padam kini kembali menyala.

Menteri Keuangan, dalam konferensi pers yang dipadati wartawan, menjelaskan bahwa dana triliunan rupiah itu berasal dari lonjakan pendapatan pajak terbesar sepanjang sejarah. Pajak penghasilan, bumi dan bangunan, hingga ekspor-impor menjadi bukti bahwa rakyat masih setia menopang negara.

“Dana akan ditransfer secara bertahap. Daerah yang paling membutuhkan akan diprioritaskan,” ujarnya tegas di lobi istana.

Di berbagai pelosok, senyum mulai merekah. Jalan rusak dibayangkan akan diperbaiki, sekolah reyot akan dibangun kembali, dan masyarakat kecil berharap hidup mereka berubah.

Semua ikut tersenyum. Dalam hati sangat membayangkan negeri ini benar-benar sedang menuju masa depan yang lebih baik.

Namun tiba-tiba…

Suara adzan Subuh menggema dari masjid dekat rumah.

Aku tersentak bangun, menatap langit-langit kamar yang gelap.
Ternyata, semua itu hanyalah mimpi dalam tidurku.

Sepakat, Namun Tidak Sepakat

Beberapa hari belakangan, publik Indonesia sempat dihebohkan oleh video viral di media sosial terkait pernyataan salah satu tokoh bangsa. Dalam video tersebut, tokoh itu menyampaikan kritik terhadap kondisi pemerintahan serta menyinggung pentingnya menjaga marwah kekuasaan agar tidak tercemar oleh persoalan moral maupun kepentingan tertentu yang dapat merusak kepercayaan rakyat.


Sebagai masyarakat Indonesia yang menjunjung nilai demokrasi, saya sepakat dengan beberapa pernyataan yang disampaikan oleh tokoh tersebut. Dalam negara demokratis, kritik terhadap pemerintah maupun pejabat publik merupakan hal yang wajar dan bahkan diperlukan sebagai bentuk pengawasan sosial. Kritik yang disampaikan dengan niat baik dapat menjadi pengingat agar para pemimpin tetap berpihak kepada rakyat dan menjaga amanah yang diberikan.


Kita juga tidak dapat menutup mata bahwa tokoh tersebut merupakan salah satu figur bangsa yang memiliki kontribusi besar dalam perjalanan Reformasi Indonesia. Pengalaman beliau ketika memimpin lembaga negara maupun organisasi kemasyarakatan Islam tentu menjadikan pandangan-pandangannya memiliki dasar pemikiran dan pertimbangan tertentu. Oleh karena itu, beberapa masukan dan kritik yang beliau sampaikan patut untuk didengar dan dijadikan bahan refleksi bersama.


Termasuk pernyataan beliau mengenai pentingnya Istana dan pemerintahan dijauhkan dari skandal moral, konflik kepentingan, serta perilaku yang dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap negara. Saya menilai pesan tersebut memiliki nilai positif, karena pemimpin negara memang seharusnya menjaga integritas dan memberikan teladan yang baik kepada rakyat.


Namun demikian, ada beberapa hal yang secara pribadi kurang saya sepakati dari pernyataan beliau yang beredar di media sosial. Pertama, adanya beberapa pernyataan yang terkesan menyerang pribadi seseorang tanpa disertai dasar dan bukti yang benar-benar jelas di ruang publik. Hal seperti itu menurut saya kurang tepat disampaikan oleh seorang tokoh bangsa. Kritik seharusnya lebih menitikberatkan pada kebijakan, tindakan, atau persoalan yang memang dapat dipertanggungjawabkan, bukan pada serangan personal yang berpotensi menimbulkan prasangka dan perpecahan di tengah masyarakat. Sebagai tokoh yang dihormati, tentu masyarakat berharap beliau dapat menyampaikan pendapat dengan arif, santun, dan bijaksana.


Selain itu, seorang tokoh publik tentu memahami bahwa setiap pernyataan yang disampaikan kepada masyarakat akan memiliki dampak yang besar. Oleh sebab itu, perlu dipertimbangkan apakah suatu pernyataan akan membawa manfaat atau justru menimbulkan kegaduhan baru di tengah masyarakat. Jika informasi atau tuduhan yang disampaikan ternyata tidak benar adanya, maka hal tersebut dapat menjadi penyebab munculnya perpecahan, saling curiga, bahkan konflik di tengah masyarakat. Namun apabila informasi dan kritik yang disampaikan memang benar serta memiliki dasar yang jelas, maka sudah seharusnya pemerintah maupun pihak terkait mempertimbangkan dan mengevaluasi apa yang menjadi masukan tersebut demi kepentingan bersama. Karena pada dasarnya kritik yang baik bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memperbaiki keadaan.


Jika persoalan yang disampaikan bersifat sensitif dan menyangkut pribadi seseorang, alangkah baiknya apabila terlebih dahulu dibicarakan secara langsung melalui diskusi tertutup atau musyawarah. Cara seperti itu dapat menjaga suasana tetap kondusif tanpa mengurangi nilai kritik yang ingin disampaikan.


Sebagai penutup, kita sebagai warga negara tetap harus menghargai dan menghormati para tokoh bangsa atas jasa dan kontribusinya terhadap negara. Namun di sisi lain, masyarakat juga tidak boleh menerima setiap informasi secara mentah-mentah, sekalipun berasal dari figur yang dikenal luas. Kita perlu menelaah, memahami, dan bertabayyun terlebih dahulu agar tidak mudah terprovokasi oleh opini yang berkembang di ruang publik. Dengan sikap saling mengingatkan secara baik dan bijaksana, kritik akan tetap menjadi sarana memperbaiki keadaan, bukan justru memperkeruh suasana bangsa.

Jangan Menjadi Corong Kegaduhan

Di era digital saat ini, banyak orang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat. Mereka dikenal, didengar, bahkan dijadikan rujukan oleh banyak orang. Sayangnya, tidak sedikit tokoh atau figur publik yang terlalu cepat menyampaikan pendapat tanpa memahami informasi secara utuh. Akibatnya, opini yang disampaikan justru dapat menyesatkan, memancing emosi publik, dan menimbulkan kegaduhan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Padahal, semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dijaga dalam berbicara kepada masyarakat.

Dalam ajaran kehidupan dan nilai sosial, tabayyun atau mencari kejelasan informasi sebelum menyimpulkan sesuatu merupakan sikap yang sangat penting. Seseorang yang memiliki pengaruh hendaknya tidak terburu-buru mempercayai kabar, apalagi langsung menyampaikannya kepada publik tanpa proses klarifikasi. Kesalahan memahami informasi dapat melahirkan fitnah, perpecahan, bahkan merusak nama baik orang lain. Kata-kata yang keluar dari orang berpengaruh sering kali dianggap benar oleh banyak orang, sehingga dampaknya jauh lebih besar dibanding ucapan biasa.

Di sisi lain, masyarakat sebagai penerima informasi juga harus bijak. Jangan mudah terpancing emosi lalu ikut menyebarkan pendapat yang menyerang atau memperkeruh suasana. Setiap informasi perlu ditelaah, dicari sumbernya, dan dipahami secara mendalam sebelum dipercaya atau disebarkan kembali. Sikap kritis dan tenang jauh lebih bermanfaat dibanding ikut larut dalam keributan publik.

Jika ada perbedaan atau ketidaksesuaia terhadap suatu perkara, alangkah baiknya diselesaikan secara face to face. Tidak semua masalah harus dibawa ke ruang publik dan dijadikan konsumsi masyarakat. Menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin dan komunikasi langsung akan jauh lebih menjaga persatuan, ketenangan, serta kehormatan semua pihak.