PANTANG LARANG (Bahagian Dua: Malam yang Sial)


Pagi itu suasana sekolah masih lengang. Angin berembus pelan melewati lorong kelas yang belum ramai. Rudi baru saja selesai meletakkan tasnya ketika Arip datang menghampiri dengan wajah pucat.


“Rud, ikut aku ke kantor Buk Ema sebentar,” ucap Arip lirih.


Rudi mengernyitkan dahi.

“Untuk apa? Kamu kenapa?”

“Sudahlah, ikut saja dulu.”

Tanpa banyak bertanya, Rudi mengikuti langkah Arip menuju kantor guru. Namun di tengah perjalanan, Rudi melihat sesuatu yang membuatnya terkejut. Jari telunjuk tangan kanan Arip dibalut kain sapu tangan yang sudah dipenuhi bercak merah.


“Ya Allah, Rip! Tanganmu kenapa?” tanya Rudi panik.


Arip hanya menunduk.

“Darahnya dari tadi belum berhenti.”


Sesampainya di kantor, Buk Ema yang sedang merapikan buku langsung berdiri kaget.


“Astaghfirullah, Arip! Cepat sini!”


Buk Ema segera membuka kotak obat. Dengan hati-hati ia membersihkan luka di jari Arip. Sesekali Arip meringis menahan perih.


“Dalam sekali lukanya,” ujar Buk Ema lembut. “Bagaimana bisa terjadi?”


Ruangan itu mendadak hening. Arip terlihat ragu untuk menjawab. Ia melirik Rudi sebentar sebelum akhirnya berbicara pelan.


“Tadi malam… saya potong kuku, Buk.”


“Potong kuku?” ulang Buk Ema.


Arip mengangguk pelan.


“Kuku saya sudah panjang. Saya ingat hari ini Senin, takut dimarahi karena kuku kotor. Jadi malam tadi saya langsung memotong kuku sebelum tidur.”


“Lalu?”


“Waktu memotong, alat pemotong kukunya tiba-tiba mengenai jari saya.” Arip menahan malu. “Awalnya cuma sedikit berdarah, jadi saya diam saja.”


Rudi membelalakkan mata.

“Jadi ini gara-gara kamu potong kuku malam-malam?”


Arip menghela napas panjang.

“Sebelumnya ibu juga sudah melarang.”


Buk Ema menghentikan tangannya sejenak.

“Ibumu bilang apa?”


Arip menirukan suara ibunya dengan pelan.


“Sudahlah, Rip. Besok pagi saja potong kukunya. Malam-malam begini pamali, nanti kena sial.”



“Tapi saya tetap memotong kuku,” lanjut Arip lesu. “Dan ternyata benar… saya jadi begini.”


Rudi langsung menggeleng keras.


“Nah kan! Orang tua dulu memang tidak sembarang melarang. Kamu melawan pamali, akhirnya kena sial.”


Arip makin tertunduk. Wajahnya murung seperti menanggung penyesalan besar.


“Saya kira cuma mitos”.


Buk Ema tersenyum kecil mendengar percakapan dua muridnya itu. Ia lalu menutup kotak obat dan duduk menghadap mereka.


“Anak-anak,” ucapnya lembut, “pamali yang disampaikan orang tua dulu sebenarnya punya makna.”


Rudi dan Arip sama-sama memperhatikan.


“rumah-rumah belum mempunyai lampu yang cukup terang”. Llanjut Buk Ema. “Lampu masih redup, bahkan ada yang hanya memakai pelita. Kalau memotong kuku malam hari, penglihatan tidak jelas. Karena itulah orang tua takut anaknya terluka.”


Arip perlahan mengangkat kepala.


“Jadi bukan karena kutukan sial, Buk?”


Buk Ema tersenyum hangat.


“Bukan begitu maksudnya. Kata ‘sial’ digunakan agar anak-anak dulu cepat menurut. Sebab kalau dijelaskan panjang lebar, kadang anak-anak malah membantah.”


Rudi mengangguk pelan.

“Oh jadi pamali itu sebenarnya bentuk nasihat?”


“Tepat sekali,” jawab Buk Ema. “Orang tua dulu menyimpan pelajaran hidup di balik larangan-larangan sederhana.”


Arip memandangi jarinya yang kini sudah dibalut rapi. Dalam hatinya muncul rasa bersalah karena telah mengabaikan nasihat ibunya.


“Nanti sepulang sekolah saya mau minta maaf sama ibu,” katanya pelan.


Buk Ema tersenyum bangga.

“Itu baru anak baik.”


Rudi pun menepuk bahu sahabatnya sambil tersenyum jahil.


jadi,i mulai sekarang jangan potong kuku tengah malam lagi. Kalau tidak, bisa-bisa satu tangan habis kau gunting.”


Arip tertawa kecil.

“Iya, iya.”


Suasana kantor mendadak hangat oleh tawa mereka bertiga.


Sejak hari itu, Rudi dan Arip mulai memahami bahwa tidak semua pamali harus dipandang sebagai takhayul semata. Di balik setiap larangan orang tua, sering tersimpan perhatian, pengalaman, dan kasih sayang yang ingin menjaga anak-anak mereka dari bahaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar