Cerpen Hari Bhayanngkara; TEKAD

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan kebun dan sungai, hiduplah seorang anak bernama Ahmad. Desa itu sebenarnya memiliki alam yang indah, tetapi kedamaian seolah telah lama pergi. Hampir setiap tahun terdengar kabar pencurian, peredaran narkoba, perjudian, hingga penculikan. Warga hidup dalam rasa cemas, sementara anak-anak tumbuh dengan ketakutan.


Setiap kali mendengar kabar kejahatan, Ahmad selalu bertanya dalam hati, "Mengapa semua ini terus terjadi? Mengapa seolah tidak pernah benar-benar selesai?"


Padahal disana banyak Tokoh yang disegani, orang baik yang mempunyai pengaruh yang kuat, namun semuanya tidak berarti sama sekali.


Pertanyaan itu terus menghantui pikirannya hingga tumbuh menjadi sebuah tekad.


"Suatu hari nanti, aku ingin menjadi polisi. Aku ingin membuat desaku kembali aman."


Karena Ahmad tau hanya dengan menjadi polisi lah, ia bisa membuat desanya kembali aman.


Sejak saat itu, Ahmad menjalani hari-harinya dengan sungguh-sungguh. Ia belajar lebih giat daripada sebelumnya. Sepulang sekolah, ia membantu kedua orang tuanya, lalu meluangkan waktu untuk berlari mengelilingi desa, berlatih push-up, sit-up, dan menjaga kebugaran fisiknya. Banyak teman menganggapnya terlalu serius, tetapi Ahmad hanya tersenyum. Ia tahu bahwa cita-cita besar menuntut pengorbanan yang besar.


Setelah lulus sekolah, Ahmad mendaftarkan diri menjadi calon anggota Polri. Dengan penuh harapan ia mengikuti setiap tahapan seleksi. Namun ketika hasil diumumkan, namanya tidak tercantum sebagai peserta yang lulus.


Hatinya hancur.


Malam itu ia menangis. Bukan karena malu kepada orang lain, melainkan karena merasa belum mampu mewujudkan impian yang telah lama ia perjuangkan.


Meski begitu, Ahmad tidak menyerah. Ia mengevaluasi kekurangannya, memperbaiki kemampuan akademik, memperkuat fisik, dan terus berlatih setiap hari.


Setahun kemudian, ia kembali mengikuti seleksi.


Ia merasa jauh lebih siap. Semua latihan telah dijalani dengan maksimal. Namun takdir berkata lain. Untuk kedua kalinya, ia kembali dinyatakan belum lulus.

Padahal ia rasa ia sudah berusaha semaksimal mungkin dalam persiapan ini. Ia tak tahu dimana kesalahannya sampai saat ini orang yang seperti dia belum layak diterima.


Kekecewaan kali ini terasa lebih berat. Banyak orang mulai menyarankannya untuk mencari pekerjaan lain.


"Sudahlah, mungkin memang bukan jalanmu menjadi polisi," kata sebagian orang.


Namun Ahmad menolak menyerah.


"Kalau aku berhenti sekarang, siapa yang akan memperjuangkan untuk memperbaiki desa ini?" bisiknya dalam hati.


Ia kembali bangkit. Untuk ketiga kalinya Ahmad mempersiapkan diri dengan lebih matang. Ia belajar tanpa mengenal lelah, menjaga disiplin, memperbaiki setiap kekurangan, dan memperbanyak doa.


Ia kembali mendaftar dan mengikuti seleksi dengan baik. Dan pada hari pengumuman itu akhirnya tiba.


Tangannya gemetar ketika melihat daftar kelulusan.


Di sana tertulis jelas namanya.


Ahmad dinyatakan lulus sebagai calon anggota Polri.


Air matanya menetes. Semua kegagalan, rasa lelah, dan perjuangan selama bertahun-tahun akhirnya terbayar.


Beberapa tahun kemudian Ahmad berhasil menyelesaikan pendidikan kepolisian dan resmi dilantik menjadi anggota Polri.


Kebahagiaannya semakin sempurna ketika mengetahui bahwa ia mendapat penugasan di kampung halamannya sendiri.


Kini cita-citanya benar-benar dimulai.


Namun kenyataan tidak semudah yang dibayangkan. Peredaran narkoba telah mengakar, kriminalitas masih sering terjadi, bahkan beberapa orang berpengaruh dan kerabatnya sendiri tidak menyukai upaya perubahan yang ia lakukan.


Ahmad sadar bahwa desa tidak bisa berubah hanya dengan penegakan hukum. Ia mulai membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, para pemuda, dan pemerintah desa. Ia mengajak mereka bergandengan tangan menjaga keamanan, memberikan penyuluhan tentang bahaya narkoba, membentuk kegiatan positif bagi generasi muda, serta menindak tegas para pelaku kejahatan sesuai hukum yang berlaku.


Perubahan memang tidak datang dalam semalam.


Tahun demi tahun berlalu.


Sedikit demi sedikit angka kriminalitas menurun. Anak-anak kembali bermain dengan aman. Masyarakat mulai saling peduli. Desa yang dahulu dikenal karena berbagai tindak kejahatan kini berubah menjadi desa yang tertib, aman, dan penuh semangat gotong royong.


Orang-orang mulai menyebutnya sebagai Desa Perubahan.


Semua itu bukan hanya karena kerja keras Ahmad seorang diri, tetapi karena ia berhasil mengajak seluruh masyarakat untuk bergerak bersama.


Dedikasi dan pengabdiannya mendapat perhatian dari pimpinan. Ahmad menerima penghargaan atas keberhasilannya membangun keamanan dan ketertiban di wilayah tugasnya. Berkat prestasi, integritas, dan kepemimpinannya, ia memperoleh kenaikan pangkat hingga dipercaya menjadi kepala kepolisian di daerahnya.


Suatu sore, Ahmad berdiri di tepi jalan desa sambil memandang anak-anak yang berlarian dengan riang. Senyum tipis menghiasi wajahnya.


Ia teringat pada seorang anak kecil yang dulu sering bertanya mengapa desanya dipenuhi kejahatan.


Kini, pertanyaan itu telah berubah menjadi jawaban.


Perubahan memang tidak datang karena harapan semata, melainkan lahir dari keberanian untuk bermimpi, keteguhan untuk bangkit setelah gagal, dan kesediaan mengabdi tanpa mengenal lelah.


Karena terkadang, satu mimpi yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh mampu mengubah masa depan sebuah desa.


Cerpen ini memiliki pesan bahwa menjadi polisi bukan hanya tentang mengenakan seragam, tetapi tentang pengabdian, ketekunan menghadapi kegagalan, dan keberanian mengajak masyarakat bersama-sama menciptakan perubahan.

SATU PERSEN

Sering kali kita menganggap perubahan besar harus diawali dengan langkah yang besar pula. Akibatnya, banyak orang menunda memulai karena merasa belum memiliki kemampuan, waktu, atau kesempatan yang cukup. Padahal, yang lebih menentukan bukanlah besarnya langkah pertama, melainkan kesediaan untuk terus melangkah.


Tulisan ini bertujuan mengajak kita melihat bahwa kemajuan sejati lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Sebab, kehidupan tidak berubah dalam semalam, tetapi dibentuk oleh apa yang kita lakukan setiap hari.


Makna satu persen bukan sekadar angka yang kecil. Satu persen adalah simbol bahwa setiap perubahan besar selalu memiliki awal yang sederhana. Ia mengajarkan bahwa yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita bertumbuh, melainkan seberapa tekun kita menjaga kebiasaan baik. Satu persen setiap hari mungkin tampak tidak berarti, tetapi ketika dilakukan terus-menerus, ia akan menjadi akumulasi yang mengubah kemampuan, karakter, dan cara hidup seseorang.


Satu halaman yang dibaca setiap hari akan menjadi puluhan buku dalam beberapa tahun. Sepuluh menit belajar setiap hari akan melahirkan pengetahuan yang terus bertambah. Demikian pula dengan ibadah, kedisiplinan, dan kepedulian kepada sesama semuanya tumbuh dari tindakan-tindakan kecil yang tidak pernah berhenti dilakukan.


Pada akhirnya, kehidupan bukan ditentukan oleh satu tindakan besar, melainkan oleh ribuan kebiasaan kecil yang kita pelihara. Karena itu, jangan meremehkan filosofis dari kalimat satu persen. Sebab, perubahan yang luar biasa sering kali hanyalah hasil dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan penuh kesabaran dan konsistensi.

MBG Perlu Dihentikan(?)

MBG Perlu Dihentikan(?)
Oleh: Rahmat Nusantara


Sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan, berbagai persoalan terus bermunculan. Mulai dari kasus keracunan makanan di sejumlah daerah, persoalan tata kelola distribusi, dugaan penyimpangan dalam pengadaan, hingga munculnya dugaan korupsi dan praktik markup anggaran yang kini menjadi perhatian publik. Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG masih menyisakan pekerjaan rumah yang tidak sedikit dan membutuhkan pembenahan secara menyeluruh. 

Namun dibalik itu semua masih ada hal baik dari program MBG yang perlu dipertahankan.

Atas dasar itu, saya berpendapat bahwa Program MBG harus tetap berjalan sembari mengevaluasi dan memperbaiki kesalahan dalam tata kelola program MBG. Namun MBG akan sampai pada taraf perlu dihentikan namun hanya untuk sementara waktu dimana hal ini wajar apabila dimaksudkan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola, mekanisme pengawasan, transparansi anggaran, hingga kualitas pelaksanaan di lapangan. Jangan sampai program yang memiliki tujuan mulia justru kehilangan kepercayaan masyarakat akibat lemahnya pengawasan.

Pandangan tersebut sejalan dengan yang disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, yang menyatakan, "Minimal menghentikan MBG sementara dulu, kemudian dievaluasi." Pernyataan tersebut bukan berarti menolak tujuan program, melainkan mendorong agar pemerintah melakukan pembenahan secara serius sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. 

Namun demikian, saya juga tidak sepakat apabila ada desakan agar MBG dihentikan secara permanen. Program ini masih memiliki nilai positif yang patut dipertahankan. Kehadiran MBG telah menggerakkan roda perekonomian, membuka lapangan pekerjaan melalui dapur-dapur penyedia makanan, serta memberikan peluang usaha bagi banyak pelaku ekonomi lokal. Di sisi lain, kita juga menyaksikan berbagai cuplikan yang memperlihatkan antusiasme anak-anak ketika menerima makanan bergizi di sekolah. Bukankah kebahagiaan mereka juga layak menjadi pertimbangan?

Karena itu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri apakah kita rela membuang seluruh manfaat tersebut hanya karena adanya kesalahan dalam tata kelola yang harusnya masih bisa diperbaiki?

Hampir semua program pemerintah memiliki tantangan dalam pelaksanaannya, termasuk potensi penyimpangan anggaran. Namun, kesalahan tata kelola tidak selalu berarti programnya harus dimatikan. Yang semestinya diperbaiki adalah sistem pengawasannya, akuntabilitasnya, serta penegakan hukum terhadap siapa pun yang terbukti menyalahgunakan kewenangan.

Pada akhirnya, saya berpandangan bahwa yang buruk harus dievaluasi dan diperbaiki, sedangkan yang baik harus dipertahankan. Menghentikan sementara demi evaluasi merupakan pilihan yang lebih bijaksana daripada membiarkan masalah terus berulang atau bahkan menghentikan program secara permanen. Dengan sikap yang terbuka dan objektif, kita dapat mengawal lahirnya kebijakan publik yang tidak hanya baik dalam gagasan, tetapi juga baik dalam pelaksanaannya.

Muharram; Bukan Sekadar Hijrah

Bulan Muharram sering dimaknai hanya sebagai penanda datangnya tahun baru Islam dan momentum hijrah Nabi Muhammad S.A.W. dari Makkah ke Madinah. Padahal, dibalik makna Hijrah yang selama ini kita pelajari dan kita pahami, ada satu pesan tersirat dari peristiwa hijrah tersebut.

Di balik peristiwa hijrah Nabi itu, terdapat pertemuan dua kelompok yang mengubah arah sejarah peradaban Islam, yaitu pertemuan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar.

Kaum Muhajirin adalah kaum yang membersamai Nabi Muhammad hijrah ke Madinah dan datang dengan kehilangan harta, kampung halaman, keluarga bahkan rasa aman.

Sementara kaum Anshar adalah mereka yang menetap di Madinah dan menyambut medatangan Nabi Muhammad dan kaum Muhajirin. Mereka menyambut bukan dengan curiga, melainkan dengan tangan terbuka, berbagi rumah, rezeki, dan persaudaraan. Dari sinilah lahir masyarakat yang tidak dibangun atas dasar kesamaan suku, kekayaan, atau kepentingan, melainkan atas dasar iman, kepedulian, dan pengorbanan.

Muharram mengajarkan bahwa hijrah bukan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga berpindah dari sikap mementingkan diri sendiri menuju semangat berbagi. Kaum Muhajirin dan Anshar telah mengajarkan arti untuk berani meninggalkan ego, dan teladan menerima perbedaan dengan kasih sayang.

Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, nilai-nilai Muhajirin dan Anshar masih banyak kita temui. Sebab, sebuah masyarakat tidak akan menjadi kuat hanya karena memiliki orang-orang hebat, tetapi karena memiliki pribadi-pribadi yang siap menolong, menerima, dan menguatkan satu sama lain.

Karena itu, Muharram bukan sekadar mengenang hijrah. Muharram adalah ajakan untuk menghadirkan kembali semangat persaudaraan, solidaritas, dan kepedulian sebagai fondasi membangun kehidupan yang lebih beradab.


PENGEMBARAAN INTELEKTUAL; Kisah Inspiratif BUYA HAMKA

Nama Buya Hamka merupakan salah satu tokoh besar Indonesia yang patut dijadikan teladan, khususnya dalam hal semangat belajar. Beliau dikenal sebagai ulama, sastrawan, pemikir, dan penulis yang karya-karyanya masih dibaca hingga saat ini. 
Secara pribadi saya memang belum membaca biografi Buya Hamka secara utuh. Hanya membaca biografi singkat di beberapa sumber media. Namun dari biografi singkat yang saya baca ada satu hal yang membuat saya menjadi semakin tertarik dengan kisah hidup Buya Hamka, dan menurut saya ini bisa dijadikan keteladanan generasi saat ini.
Disinilah kisah keteladanan Buya Hamka. Ternyata di balik semua prestasi yang pernah diraih Buya Hamka termasuk mendapatkan gelar Doktor dari Universitas Al Azhar, ada satu fakta menarik yang sering terlupakan, yaitu Buya Hamka tidak menamatkan pendidikan formal hingga jenjang tinggi seperti kebanyakan akademisi.
Ada satu kebiasaan yang dilakukan Buya Hamka dalam mencari ilmu, yaitu kegemaran nya dalam “PENGEMBARAAN INFELEKTUAL” yang membuatnya harus berkelana saat usianya masih muda. 
Hamka mulai bersekolah pada usia tujuh tahun di sekolah dasar di Padang Panjang. Konon, karena nakalnya. ia tidak tamat dari sekolah itu. Akan tetapi, ia mendapat pelajaran agama dan mengaji. Dalam kurun waktu tujuh tahun (1916—1923) Hamka berhasil menamatkan pendidikan agamanya dari dua tempat, yaitu Diniyah School dan Sumatera Thawalib (milik ayahnya). Sekolah yang didirikan oleh ayah Hamka itu menerapkan metode belajar-mengajar seperti metode yang digunakan di sekolah-sekolah agama di Mesir. Bahkan, buku-buku dan kurikulumnya pun disesuaikan dengan buku-buku dan kurikulum yang digunakan di sekolah Al-Azhar, Mesir. Gelar doktor ayahnya memang berasal dari sekolah Al-Azhar, Mesir.
Keterbatasan pendidikan formal tidak membuat Buya Hamka berhenti belajar. Sebaliknya, beliau menjadikan membaca, berdiskusi, menulis, dan mencari ilmu secara mandiri sebagai bagian dari kehidupannya. Dengan tekad yang kuat, Buya Hamka mempelajari berbagai bidang ilmu, mulai dari agama, sejarah, filsafat, sastra, hingga budaya. Semangat belajarnya menunjukkan bahwa sekolah memang penting, tetapi kemauan untuk terus belajar jauh lebih penting.
Keteladanan Buya Hamka memberikan pelajaran berharga bagi generasi masa kini. Di tengah kemudahan akses informasi dan pendidikan, masih banyak orang yang mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dalam belajar. Hamka membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang. Dengan disiplin, kerja keras, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, seseorang dapat mencapai prestasi yang tinggi.
Pengakuan terhadap keilmuan Buya Hamka akhirnya datang dari dunia akademik. Beliau dianugerahi gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Al-Azhar, salah satu lembaga pendidikan Islam paling bergengsi di dunia. Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa ilmu dan dedikasi seseorang tidak selalu diukur dari panjangnya jenjang pendidikan formal yang ditempuh, melainkan dari kesungguhan dalam menuntut ilmu dan kontribusinya kepada masyarakat.
Menurut saya, kisah Buya Hamka adalah inspirasi yang sangat relevan untuk kita semua. Beliau mengajarkan bahwa belajar tidak memiliki batas usia, tempat, maupun status pendidikan. Selama seseorang memiliki rasa ingin tahu dan kemauan untuk terus memperbaiki diri, maka kesempatan untuk meraih kesuksesan akan selalu terbuka. Buya Hamka telah membuktikan bahwa ketekunan dalam belajar mampu mengantarkan seseorang menjadi tokoh besar yang dihormati, bahkan oleh dunia internasional.
Dengan demikian, keteladanan Buya Hamka dalam belajar layak menjadi contoh bagi para pelajar dan masyarakat luas. Beliau menunjukkan bahwa pendidikan formal hanyalah salah satu jalan memperoleh ilmu, sedangkan semangat belajar yang tidak pernah padam adalah kunci utama menuju keberhasilan.

Cinta Bersemi di Papan Tulis

Mentari pagi baru saja menyapa halaman sekolah ketika Putri melangkah menuju kelas XII IPA 2. Seperti biasa, ia menjadi guru pertama yang mengajar di kelas itu setiap hari Selasa.

Namun pagi itu, seperti beberapa Selasa sebelumnya, pandangannya kembali tertuju pada papan tulis.

Di sana, tertulis beberapa baris puisi pendek dengan tulisan yang rapi.

"Embun pagi tak pernah meminta matahari datang,
namun ia tetap menunggu.
Sebab sebagian rindu,
tak perlu alasan untuk tumbuh."

Putri terdiam.

Sudah hampir sebulan ia menemukan puisi-puisi semacam itu. Selalu pada hari Selasa. Selalu sebelum ia masuk kelas. Dan selalu ditulis dengan kalimat sederhana namun mampu menggetarkan hati.

Anehnya, tak seorang pun murid mengetahui siapa penulisnya.

"Siapa yang menulis ini?" tanyanya suatu pagi.

Seluruh siswa hanya saling berpandangan dan menggeleng.

Karena rasa penasaran yang terus tumbuh, Putri mulai memperhatikan jadwal pelajaran yang terpajang di samping papan tulis. Ia menemukan satu hal yang menarik.

Setiap hari Senin, jam terakhir di kelas itu selalu diisi oleh Pak Putra, guru matematika.

Putri mengerutkan kening.

Tidak mungkin.

Pak Putra adalah guru yang terkenal pendiam. Ia jarang berbincang dengan guru lain. Wajahnya selalu tampak tenang dan serius. Sulit membayangkan sosok seperti itu menulis puisi-puisi romantis.

Namun semakin ia menyangkal, semakin kuat pula dugaannya.

Minggu demi minggu berlalu.

Puisi-puisi itu tetap muncul.

Dan tanpa disadari, Putri mulai menantikannya.

Bukan lagi karena penasaran.

Melainkan karena ia menikmati setiap kata yang tertulis.

Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari jawabannya sendiri.

Hari Senin sore, Putri diam-diam berdiri di dekat pintu kelas XII IPA 2. Ia menunggu hingga seluruh siswa pulang.

Jantungnya berdegup ketika melihat seseorang masuk ke dalam kelas.

Pak Putra.

Dengan perlahan, lelaki itu mengambil kapur tulis lalu mulai menulis di papan.

Tangannya bergerak tenang.

Baris demi baris puisi muncul.

"Ada nama yang tak pernah kutulis,
namun selalu hadir di setiap bait.
Ada wajah yang tak pernah kusebut,
namun selalu tinggal di setiap pikir."

Putri terpaku.

Benar.

Selama ini Pak Putralah penulis puisi-puisi itu.

Ketika hampir selesai menulis, Pak Putra menoleh.

Matanya membesar.

Di ambang pintu berdiri Putri yang sejak tadi memperhatikannya.

Pak Putra langsung gugup.

Kapur di tangannya nyaris terjatuh.

Tanpa berkata apa-apa, ia segera menghapus sebagian puisinya lalu hendak pergi.

"Kenapa berhenti menulis?" tanya Putri lembut.

Pak Putra terdiam sejenak.

Lalu menjawab pelan,

"Aku tidak bisa berpikir lagi saat mengetahui engkau berdiri di depan pintu."

Kalimat itu membuat wajah Putri memerah.

Ia memberanikan diri berkata,

"Apakah engkau tahu bahwa puisi-puisimu itu telah membuatku jatuh cinta?"

Pak Putra tertegun.

Namun ia tidak menjawab.

Ia hanya menunduk, berjalan menuju kantor, mengambil tasnya, lalu pulang lebih cepat dari biasanya.

Malam itu Putri tidak bisa tidur.

Sementara Pak Putra duduk termenung di ruang tamunya.

Ia terus mengingat ucapan Putri.

Kalimat yang selama ini tak pernah berani ia bayangkan.

Keesokan paginya, sebuah amplop putih tergeletak di meja kerjanya.

Ia langsung mengenali tulisan tangan di sampulnya.

Putri.

Dengan jantung berdebar, ia membuka surat itu.


Surat Pertama dari Putri

"Untuk seseorang yang menyembunyikan hatinya di balik angka dan rumus.

Selama ini aku mengira papan tulis hanya tempat menuliskan pelajaran. Namun engkau mengubahnya menjadi tempat tumbuhnya perasaan yang tak pernah kuduga.

Aku tidak jatuh cinta pada wajahmu. Aku jatuh cinta pada caramu merangkai kata, pada ketulusan yang tersimpan dalam setiap bait, dan pada keberanianmu mencintai dalam diam.

Jika puisi-puisi itu memang lahir dari hatimu, maka ketahuilah bahwa setiap baitnya telah sampai ke hatiku.

— Putri"

Pak Putra membaca surat itu berulang kali.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tersenyum sendirian.

Hari berikutnya datang surat kedua.

Lalu surat ketiga.

Dan seterusnya.

Setiap pagi selalu ada sepucuk surat baru.

Perlahan-lahan hati yang selama ini tertutup mulai terbuka.

Ia mulai menunggu surat-surat itu sebagaimana Putri dulu menunggu puisi-puisinya.

Tak terasa, rasa itu tumbuh.

Dan akhirnya menjadi cinta.

Seminggu kemudian, Pak Putra kembali berdiri di depan papan tulis kelas XII IPA 2.

Namun kali ini ia tidak menulis untuk menyembunyikan perasaannya.

Ia menulis untuk menjawab surat-surat Putri.

"Jika dahulu puisiku adalah rindu yang tak berani bersuara,
kini ia menjadi langkah yang ingin menuju padamu.
Jika dahulu namamu kusembunyikan dalam bait-bait rahasia,
kini hatiku memilih menyebutmu dengan bangga."

Pagi harinya Putri membaca puisi itu.

Senyumnya merekah.

Di bawah puisi tersebut terdapat satu kalimat sederhana.

"Terima kasih telah menemukan jalan menuju hatiku."

Sejak hari itu mereka tidak lagi berkomunikasi lewat teka-teki.

Mereka mulai berbicara, berjalan bersama sepulang sekolah, dan saling mengenal lebih dekat.

Papan tulis yang dahulu menjadi saksi lahirnya puisi-puisi rahasia kini menjadi saksi tumbuhnya cinta mereka.

Dan setiap kali Putri melihat papan tulis itu, ia selalu teringat satu hal:

Kadang-kadang cinta tidak datang melalui pertemuan yang megah.

Ia datang diam-diam.

Dalam beberapa bait puisi sederhana.

Di sebuah papan tulis sekolah.