Nama Buya Hamka merupakan salah satu tokoh besar Indonesia yang patut dijadikan teladan, khususnya dalam hal semangat belajar. Beliau dikenal sebagai ulama, sastrawan, pemikir, dan penulis yang karya-karyanya masih dibaca hingga saat ini.
Secara pribadi saya memang belum membaca biografi Buya Hamka secara utuh. Hanya membaca biografi singkat di beberapa sumber media. Namun dari biografi singkat yang saya baca ada satu hal yang membuat saya menjadi semakin tertarik dengan kisah hidup Buya Hamka, dan menurut saya ini bisa dijadikan keteladanan generasi saat ini.
Disinilah kisah keteladanan Buya Hamka. Ternyata di balik semua prestasi yang pernah diraih Buya Hamka termasuk mendapatkan gelar Doktor dari Universitas Al Azhar, ada satu fakta menarik yang sering terlupakan, yaitu Buya Hamka tidak menamatkan pendidikan formal hingga jenjang tinggi seperti kebanyakan akademisi.
Ada satu kebiasaan yang dilakukan Buya Hamka dalam mencari ilmu, yaitu kegemaran nya dalam “PENGEMBARAAN INFELEKTUAL” yang membuatnya harus berkelana saat usianya masih muda.
Hamka mulai bersekolah pada usia tujuh tahun di sekolah dasar di Padang Panjang. Konon, karena nakalnya. ia tidak tamat dari sekolah itu. Akan tetapi, ia mendapat pelajaran agama dan mengaji. Dalam kurun waktu tujuh tahun (1916—1923) Hamka berhasil menamatkan pendidikan agamanya dari dua tempat, yaitu Diniyah School dan Sumatera Thawalib (milik ayahnya). Sekolah yang didirikan oleh ayah Hamka itu menerapkan metode belajar-mengajar seperti metode yang digunakan di sekolah-sekolah agama di Mesir. Bahkan, buku-buku dan kurikulumnya pun disesuaikan dengan buku-buku dan kurikulum yang digunakan di sekolah Al-Azhar, Mesir. Gelar doktor ayahnya memang berasal dari sekolah Al-Azhar, Mesir.
Keterbatasan pendidikan formal tidak membuat Buya Hamka berhenti belajar. Sebaliknya, beliau menjadikan membaca, berdiskusi, menulis, dan mencari ilmu secara mandiri sebagai bagian dari kehidupannya. Dengan tekad yang kuat, Buya Hamka mempelajari berbagai bidang ilmu, mulai dari agama, sejarah, filsafat, sastra, hingga budaya. Semangat belajarnya menunjukkan bahwa sekolah memang penting, tetapi kemauan untuk terus belajar jauh lebih penting.
Keteladanan Buya Hamka memberikan pelajaran berharga bagi generasi masa kini. Di tengah kemudahan akses informasi dan pendidikan, masih banyak orang yang mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dalam belajar. Hamka membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang. Dengan disiplin, kerja keras, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, seseorang dapat mencapai prestasi yang tinggi.
Pengakuan terhadap keilmuan Buya Hamka akhirnya datang dari dunia akademik. Beliau dianugerahi gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Al-Azhar, salah satu lembaga pendidikan Islam paling bergengsi di dunia. Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa ilmu dan dedikasi seseorang tidak selalu diukur dari panjangnya jenjang pendidikan formal yang ditempuh, melainkan dari kesungguhan dalam menuntut ilmu dan kontribusinya kepada masyarakat.
Menurut saya, kisah Buya Hamka adalah inspirasi yang sangat relevan untuk kita semua. Beliau mengajarkan bahwa belajar tidak memiliki batas usia, tempat, maupun status pendidikan. Selama seseorang memiliki rasa ingin tahu dan kemauan untuk terus memperbaiki diri, maka kesempatan untuk meraih kesuksesan akan selalu terbuka. Buya Hamka telah membuktikan bahwa ketekunan dalam belajar mampu mengantarkan seseorang menjadi tokoh besar yang dihormati, bahkan oleh dunia internasional.
Dengan demikian, keteladanan Buya Hamka dalam belajar layak menjadi contoh bagi para pelajar dan masyarakat luas. Beliau menunjukkan bahwa pendidikan formal hanyalah salah satu jalan memperoleh ilmu, sedangkan semangat belajar yang tidak pernah padam adalah kunci utama menuju keberhasilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar