Namun pagi itu, seperti beberapa Selasa sebelumnya, pandangannya kembali tertuju pada papan tulis.
Di sana, tertulis beberapa baris puisi pendek dengan tulisan yang rapi.
"Embun pagi tak pernah meminta matahari datang,
namun ia tetap menunggu.
Sebab sebagian rindu,
tak perlu alasan untuk tumbuh."
Putri terdiam.
Sudah hampir sebulan ia menemukan puisi-puisi semacam itu. Selalu pada hari Selasa. Selalu sebelum ia masuk kelas. Dan selalu ditulis dengan kalimat sederhana namun mampu menggetarkan hati.
Anehnya, tak seorang pun murid mengetahui siapa penulisnya.
"Siapa yang menulis ini?" tanyanya suatu pagi.
Seluruh siswa hanya saling berpandangan dan menggeleng.
Karena rasa penasaran yang terus tumbuh, Putri mulai memperhatikan jadwal pelajaran yang terpajang di samping papan tulis. Ia menemukan satu hal yang menarik.
Setiap hari Senin, jam terakhir di kelas itu selalu diisi oleh Pak Putra, guru matematika.
Putri mengerutkan kening.
Tidak mungkin.
Pak Putra adalah guru yang terkenal pendiam. Ia jarang berbincang dengan guru lain. Wajahnya selalu tampak tenang dan serius. Sulit membayangkan sosok seperti itu menulis puisi-puisi romantis.
Namun semakin ia menyangkal, semakin kuat pula dugaannya.
Minggu demi minggu berlalu.
Puisi-puisi itu tetap muncul.
Dan tanpa disadari, Putri mulai menantikannya.
Bukan lagi karena penasaran.
Melainkan karena ia menikmati setiap kata yang tertulis.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari jawabannya sendiri.
Hari Senin sore, Putri diam-diam berdiri di dekat pintu kelas XII IPA 2. Ia menunggu hingga seluruh siswa pulang.
Jantungnya berdegup ketika melihat seseorang masuk ke dalam kelas.
Pak Putra.
Dengan perlahan, lelaki itu mengambil kapur tulis lalu mulai menulis di papan.
Tangannya bergerak tenang.
Baris demi baris puisi muncul.
"Ada nama yang tak pernah kutulis,
namun selalu hadir di setiap bait.
Ada wajah yang tak pernah kusebut,
namun selalu tinggal di setiap pikir."
Putri terpaku.
Benar.
Selama ini Pak Putralah penulis puisi-puisi itu.
Ketika hampir selesai menulis, Pak Putra menoleh.
Matanya membesar.
Di ambang pintu berdiri Putri yang sejak tadi memperhatikannya.
Pak Putra langsung gugup.
Kapur di tangannya nyaris terjatuh.
Tanpa berkata apa-apa, ia segera menghapus sebagian puisinya lalu hendak pergi.
"Kenapa berhenti menulis?" tanya Putri lembut.
Pak Putra terdiam sejenak.
Lalu menjawab pelan,
"Aku tidak bisa berpikir lagi saat mengetahui engkau berdiri di depan pintu."
Kalimat itu membuat wajah Putri memerah.
Ia memberanikan diri berkata,
"Apakah engkau tahu bahwa puisi-puisimu itu telah membuatku jatuh cinta?"
Pak Putra tertegun.
Namun ia tidak menjawab.
Ia hanya menunduk, berjalan menuju kantor, mengambil tasnya, lalu pulang lebih cepat dari biasanya.
Malam itu Putri tidak bisa tidur.
Sementara Pak Putra duduk termenung di ruang tamunya.
Ia terus mengingat ucapan Putri.
Kalimat yang selama ini tak pernah berani ia bayangkan.
Keesokan paginya, sebuah amplop putih tergeletak di meja kerjanya.
Ia langsung mengenali tulisan tangan di sampulnya.
Putri.
Dengan jantung berdebar, ia membuka surat itu.
Surat Pertama dari Putri
"Untuk seseorang yang menyembunyikan hatinya di balik angka dan rumus.
Selama ini aku mengira papan tulis hanya tempat menuliskan pelajaran. Namun engkau mengubahnya menjadi tempat tumbuhnya perasaan yang tak pernah kuduga.
Aku tidak jatuh cinta pada wajahmu. Aku jatuh cinta pada caramu merangkai kata, pada ketulusan yang tersimpan dalam setiap bait, dan pada keberanianmu mencintai dalam diam.
Jika puisi-puisi itu memang lahir dari hatimu, maka ketahuilah bahwa setiap baitnya telah sampai ke hatiku.
— Putri"
Pak Putra membaca surat itu berulang kali.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tersenyum sendirian.
Hari berikutnya datang surat kedua.
Lalu surat ketiga.
Dan seterusnya.
Setiap pagi selalu ada sepucuk surat baru.
Perlahan-lahan hati yang selama ini tertutup mulai terbuka.
Ia mulai menunggu surat-surat itu sebagaimana Putri dulu menunggu puisi-puisinya.
Tak terasa, rasa itu tumbuh.
Dan akhirnya menjadi cinta.
Seminggu kemudian, Pak Putra kembali berdiri di depan papan tulis kelas XII IPA 2.
Namun kali ini ia tidak menulis untuk menyembunyikan perasaannya.
Ia menulis untuk menjawab surat-surat Putri.
"Jika dahulu puisiku adalah rindu yang tak berani bersuara,
kini ia menjadi langkah yang ingin menuju padamu.
Jika dahulu namamu kusembunyikan dalam bait-bait rahasia,
kini hatiku memilih menyebutmu dengan bangga."
Pagi harinya Putri membaca puisi itu.
Senyumnya merekah.
Di bawah puisi tersebut terdapat satu kalimat sederhana.
"Terima kasih telah menemukan jalan menuju hatiku."
Sejak hari itu mereka tidak lagi berkomunikasi lewat teka-teki.
Mereka mulai berbicara, berjalan bersama sepulang sekolah, dan saling mengenal lebih dekat.
Papan tulis yang dahulu menjadi saksi lahirnya puisi-puisi rahasia kini menjadi saksi tumbuhnya cinta mereka.
Dan setiap kali Putri melihat papan tulis itu, ia selalu teringat satu hal:
Kadang-kadang cinta tidak datang melalui pertemuan yang megah.
Ia datang diam-diam.
Dalam beberapa bait puisi sederhana.
Di sebuah papan tulis sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar