BAGAIMANA HUBUNGAN MUHAMMADIYAH DAN PAN?

                Jika dilihat dari sejarah, terlihat bahwa PAN dan Muhammadiyah memiliki keterkaitan sendiri secara tidak langsung, ini dapat lihat dari para pendiri partai yang berlogo matahari itu di deklarasikan oleh kebanyakan pengurus dan warga Muhammadiyah. Tak bisa di pungkiri, hal ini berlatar belakang dari hasil Sidang Tanwir Muhammadiyah 5 – 7 Juni 1998 di Kota Semarang, Jawa Tengah. Pada saat itu, Komisi C merekomendasikan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mendirikan sebuah Partai Politik sebagai sarana Muhammadiyah untuk mengembangkan sayapnya di bidang politik. Dan sebagai hasilnya Amien Rais mengatakan akan membentuk sebuah partai Politik yang kini dikenal dengan nama Partai Amanat Nasional. Keinginan Amien Rais untuk mendirikan Partai mendapat izin dari petinggi Muhammadiyah dengan catatan ia harus mundur dari jabatannya sebagai ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, anggota-anggota Muhammadiyah juga di beri izin jika ingin bergabung dengan Amien Rais untuk bergabung dengan partai. Meski begitu, Muhammadiyah mengakui tidak mengafisiliasi atau tidak terikat dengan partai politik manapun.

                Khittah Makasar 1971 menjadi pegangan Muhammadiyah untuk bersikap Netral dalam kontestasi politik. Muhammadiyah juga cenderung jarang menyatakan pandangan Politik secara terbuka. Meski begitu Muhammadiyah juga pernah bergabung dalam Partai Masyumi dan beberapa tokoh Muhammadiyah sempat mendirikan Partai Muslimin Indonesia atau PARMUSI.

                Perjalanan pembentukan partai PAN bisa dibilang cukup mudah dan tanpa hambatan. Hal itu dikarenakan banyak kader-kader Muhammadiyah yang berada ditingkat Wilayah dan Daerah mendukung pembentukan partai tersebut. Hal ini menjadi jembatan dan infrastruktur PAN untuk mengembangkan sayapnya di Indonesia.