Bulan Muharram sering dimaknai hanya sebagai penanda datangnya tahun baru Islam dan momentum hijrah Nabi Muhammad S.A.W. dari Makkah ke Madinah. Padahal, dibalik makna Hijrah yang selama ini kita pelajari dan kita pahami, ada satu pesan tersirat dari peristiwa hijrah tersebut.
Di balik peristiwa hijrah Nabi itu, terdapat pertemuan dua kelompok yang mengubah arah sejarah peradaban Islam, yaitu pertemuan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar.
Kaum Muhajirin adalah kaum yang membersamai Nabi Muhammad hijrah ke Madinah dan datang dengan kehilangan harta, kampung halaman, keluarga bahkan rasa aman.
Sementara kaum Anshar adalah mereka yang menetap di Madinah dan menyambut medatangan Nabi Muhammad dan kaum Muhajirin. Mereka menyambut bukan dengan curiga, melainkan dengan tangan terbuka, berbagi rumah, rezeki, dan persaudaraan. Dari sinilah lahir masyarakat yang tidak dibangun atas dasar kesamaan suku, kekayaan, atau kepentingan, melainkan atas dasar iman, kepedulian, dan pengorbanan.
Muharram mengajarkan bahwa hijrah bukan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga berpindah dari sikap mementingkan diri sendiri menuju semangat berbagi. Kaum Muhajirin dan Anshar telah mengajarkan arti untuk berani meninggalkan ego, dan teladan menerima perbedaan dengan kasih sayang.
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, nilai-nilai Muhajirin dan Anshar masih banyak kita temui. Sebab, sebuah masyarakat tidak akan menjadi kuat hanya karena memiliki orang-orang hebat, tetapi karena memiliki pribadi-pribadi yang siap menolong, menerima, dan menguatkan satu sama lain.
Karena itu, Muharram bukan sekadar mengenang hijrah. Muharram adalah ajakan untuk menghadirkan kembali semangat persaudaraan, solidaritas, dan kepedulian sebagai fondasi membangun kehidupan yang lebih beradab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar