PANTANG LARANG (Bagian Satu: Disuruk Bunian)

Menjelang magrib, Topik, Sanah, Rasid, Dasir, dan Tris berjalan menuju masjid untuk melaksanakan shalat magrib berjamaah. Langit mulai berwarna jingga, sementara suara azan berkumandang lembut dari pengeras suara masjid.


Di tengah perjalanan, Topik tiba-tiba tersenyum nakal.


“Guys, bagaimana kalau nanti setelah shalat kita main suruk benteng? (Petak umpet)” bisiknya penuh semangat.


Rasid langsung menyahut, “Wah, seru itu!”


“Aku ikut!” tambah Dasir.


Namun Sanah yang terkenal penakut langsung menggeleng cepat.


“Tidak, aku tidak ikut” ucapnya pelan.


Tris tertawa kecil. “Ah, Sanah memang penakut dari dulu.”


Sanah hanya memanyunkan bibir sambil mempercepat langkah menuju masjid.



---


Seusai shalat magrib, anak-anak itu berkumpul di halaman masjid. Lampu-lampu mulai menyala, sementara suasana malam perlahan terasa sunyi. Sanah memilih duduk di teras masjid sambil memperhatikan teman-temannya.


Ustad Amin yang melihat Sanah sendirian pun mendekat.


“Sanah, kenapa tidak ikut bermain dengan yang lain?” tanyanya lembut.


Sanah menunduk sebentar sebelum menjawab,

“Mereka mau bermain suruk benteng, Ustad. Sanah takut.”


“Takut kenapa?”


“Kata orang-orang, kalau bermain malam-malam bisa diculik orang bunian…”


Mendengar itu, Ustad Amin langsung menghampiri anak-anak yang sedang bersiap bermain.


“Anak-anak,” panggil beliau.


Mereka serentak menoleh.


“Jangan bermain suruk benteng malam-malam. Nanti kalian bisa tersesat di hutan. Orang tua dulu bilang bisa diculik bunian kalau anak-anak bermain suruk benteng malam-malam.”


Topik tersenyum kecil sambil melirik teman-temannya.


“Baik, Ustad,” jawab mereka kompak.


“Bagus. Sekarang Ustad masuk dulu untuk mengisi kajian.”


“Baik, Ustad,” sahut mereka lagi.


Namun begitu Ustad Amin masuk ke dalam masjid, Topik langsung bertepuk tangan pelan.


“Nah, sekarang kita lanjut main!”


Sanah yang mendengar itu langsung berdiri.


“Eh, kalian kenapa lanjut main! Nanti benar-benar hilang!”


Topik tertawa. “Ah, Sanah. Masa percaya begituan? Mana ada bunian.”


“Iya, paling cuma cerita orang tua,” tambah Rasid.


Dasir mengangguk setuju. “Cepatlah mulai!”


Akhirnya permainan dimulai. Tris mendapat giliran pertama menjadi penjaga.


“Satu… dua… tiga…” hitung Tris sambil menutup mata di tiang masjid.


Topik, Rasid, dan Dasir langsung berlari mencari tempat persembunyian.


“…delapan… sembilan… sepuluh! Aku cari kalian!”


Malam semakin gelap. Suara jangkrik terdengar dari arah semak dan pepohonan di dekat hutan kecil belakang masjid.


Tak lama kemudian, Tris berhasil menemukan Rasid yang bersembunyi di balik pohon pisang.


“Kena kamu!” teriak Tris.


“Yahh… cepat sekali ketahuan,” keluh Rasid.


Beberapa menit kemudian Dasir juga ditemukan di belakang gudang wudu.


Tapi Topik belum juga terlihat.


“Topik!” panggil Dasir.


“Oi Topik! Keluar lah!” tambah Rasid.


Tidak ada jawaban.


Sementara itu, Topik ternyata bersembunyi di dekat semak-semak pinggir hutan. Saat sedang diam, ia mendengar suara ranting patah dari arah yang lebih dalam.


Krek… krek…


Topik menyipitkan mata.


“Siapa itu?” gumamnya.


Karena penasaran dan merasa tidak takut, ia malah berjalan mendekati suara tersebut.


“Heh! Siapa di sana?” teriaknya lagi.


Namun suara itu semakin menjauh.


Tanpa sadar Topik terus mengikuti suara itu hingga masuk semakin jauh ke dalam hutan. Lampu masjid sudah tidak terlihat lagi. Yang terdengar hanya suara angin dan dedaunan.


Topik mulai panik.


“Rasid…? Dasir…?” panggilnya pelan.


Tidak ada jawaban.


Ia mencoba berjalan kembali, tetapi arah jalan sudah tidak dikenalnya lagi. Dan ia pun tersesat dihutan.



Seusai shalat isya, Rasid, Dasir, Tris, dan Sanah dengan wajah pucat menemui Ustad Amin dan beberapa warga.


“Ustad… Topik hilang…” kata Tris hampir menangis.


“Apa?” Ustad Amin langsung berdiri.


“Kami sudah cari, tapi tidak ketemu.”


Wajah Ustad Amin berubah serius.


“Kan sudah Ustad bilang jangan bermain malam-malam! Kenapa masih kalian lakukan?”


Mereka semua tertunduk diam.


Sanah mulai menangis kecil. “Sanah sudah bilang jangan main…”


Ustad Amin menghela napas panjang.


“Sudahlah. Sekarang kalian pulang bersama orang tua kalian. Biar kami yang mencari Topik.”


Malam itu beberapa warga membawa senter dan masuk ke hutan bersama Ustad Amin.


“Topik!” teriak mereka bergantian.


Namun hutan yang gelap membuat pencarian menjadi sulit.


Menjelang subuh, akhirnya Topik ditemukan tertidur lemah di bawah pohon. Bajunya kotor dan wajahnya pucat karena kelelahan.


“Alhamdulillah, ketemu!” seru salah seorang warga.


Topik perlahan membuka mata.


“Ustad…” ucapnya lirih.


Ustad Amin membantu Topik berdiri.


“Makanya jangan keras kepala.”


Topik hanya menunduk malu.



Keesokan paginya mereka tetap pergi ke sekolah seperti biasa. Saat jam pelajaran dimulai, Rasid mengangkat tangan dan bertanya kepada Pak Rahmat.


“Pak, apa benar Topik semalam disuruk orang bunian?”


Anak-anak lain langsung ikut penasaran.


Pak Rahmat tersenyum kecil sebelum menjawab,


“Begini. Dulu orang tua membuat pantang larang supaya anak-anak tidak bermain jauh saat malam. Karena malam hari pandangan manusia terbatas.”


Beliau lalu menunjuk jendela kelas.


“Mata manusia hanya bisa melihat dengan bantuan cahaya. Saat malam, cahaya sangat sedikit. Apalagi di hutan yang tidak ada penerangan sama sekali.”


“Jadi Topik bukan diculik bunian, Pak?” tanya Tris.


“Bukan. Topik tersesat karena sulit melihat jalan dalam gelap.”


Topik menggaruk kepala sambil tersenyum malu.


“Berarti aku memang salah ya, Pak.”


Pak Rahmat mengangguk.


“Pantang larang kadang dibuat agar anak-anak lebih berhati-hati. Yang penting kita memahami maksud baik di balik nasihat itu.”


Mereka berlima pun saling berpandangan dan mengangguk pelan.


Sejak hari itu, mereka tidak pernah lagi bermain suruk benteng pada malam hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar