SENGKUNI LEDA LEDE

Suasana riuh balai desa seketika senyap saat Jamal resmi diketuk sebagai kepala desa baru. Di sudut ruangan, Atan tersenyum bangga. Ia melirik Boy, sahabat yang sudah dianggapnya saudara kandung. Dalam benak Atan, kesepakatan malam itu, setelah mereka semua selesai berkumpul di rumahnya impiannya akan segera terwujud: Jamal memimpin, dan ia akan menjadi penasihat desa.


Namun, Atan tidak pernah tahu. Begitu ia mengantar mereka pulang malam itu, Boy dan Jamal langsung melipir ke sudut gelap kampung. Di sana, sosok Lukman sudah menunggu. Lukman-lah otak di balik semua ini. Dialah yang mengatur strategi licik untuk menghancurkan pengaruh dan nama baik Atan di desa, sekaligus memuluskan jalan mereka menguasai usaha perkebunan milik Atan.

"Ingat, begitu Jamal naik, tunjuk Haikal jadi penasihat. Kita preteli pengaruh Atan sampai habis," bisik Lukman malam itu, yang langsung diangguki penuh nafsu oleh Boy dan Jamal.

Kembali ke balai desa, agenda pengangkatan penasihat dimulai. Boy mengangkat tangan dengan percaya diri. Atan merapikan bajunya, bersiap berdiri. Namun, kalimat Boy justru menjadi belati yang menikam jantungnya.

"Saya mengusulkan Haikal sebagai penasihat desa. Beliau punya visi yang sejalan dengan Pak Jamal," ucap Boy lantang.

Atan tertegun. Kepalanya mendadak pening. "Boy?" bisiknya lirih. Namun Boy tak menoleh sedikit pun. Yang lebih menyakitkan, Jamal langsung mengangguk, "Saya sepakat. Haikal adalah pilihan terbaik."

Runtuh sudah dunia Atan. Sifat Sengkuni dalam diri Boy, kelicikan Jamal, dan strategi busuk Lukman berhasil menjatuhkannya hari itu. Atan tidak mengamuk; ia hanya terdiam, merekam pengkhianatan itu dalam senyap.

Sejak hari itu, Atan menarik diri sepenuhnya dari urusan desa dan memutus hubungan dengan Boy. Pengkhianatan ini menjadi alasan bagi Atan untuk bangkit, menjadi lebih waspada, dan tidak mudah percaya pada siapa pun. Ia fokus total membangun bisnisnya sendiri secara mandiri.

Beberapa tahun berlalu, roda nasib berputar. Atan tumbuh menjadi pengusaha yang jauh lebih sukses dan kaya raya. Sebaliknya, strategi Lukman gagal total. Tanpa otak bisnis Atan, usaha yang mereka incar hancur berantakan. Kepemimpinan Jamal goyah, dan bersama Boy serta Lukman, hidup mereka kini luntang-lantung tidak tentu arah, hancur oleh keserakahan mereka sendiri.

Cerita Pendek Fiksi (mohon maaf jika ada kesamaan nama dan karakter)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar