Rayuan di Antara Dua Sujud

“Allahu Akbar…”


Pak Mukhsin bangkit perlahan dari sujudnya. Lututnya yang mulai renta bertumpu pelan di atas sajadah lusuh yang telah lama menemaninya. Malam itu rumah kecilnya begitu sunyi. Hanya suara kipas tua dan sesekali desir angin dari celah dinding papan yang terdengar menemani.

“Allaahummaghfirlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii…” do’a nya dengan suara lirih.

(Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah kekuranganku, berilah aku petunjuk, dan limpahkanlah rezeki kepadaku)


Belum selesai doa itu terucap, tiba-tiba air matanya jatuh. Pelan. Diam-diam. Ia menundukkan kepala lebih dalam, seakan malu memperlihatkan kesedihannya bahkan kepada dirinya sendiri.


Pak Mukhsin adalah seorang penebang kayu bakau di pesisir kampungnya. Bertahun-tahun pekerjaan itu menjadi satu-satunya cara ia menghidupi keluarga. Dari kayu-kayu bakau itulah ia menyekolahkan anak-anaknya, membeli beras, dan menyambung hidup meski serba sederhana.


Namun beberapa hari terakhir hidupnya berubah mendadak.


Tempat biasa ia mencari nafkah kini ditutup. Beberapa petugas keamanan datang tanpa banyak penjelasan. Aktivitas penebangan dilarang, dan semua pekerja diminta berhenti seketika. Tak ada waktu untuk bersiap, tak ada kepastian kapan boleh bekerja kembali.


Sejak hari itu, kegelisahan terus mengisi kepala Pak Mukhsin.


Ia bukan orang yang memiliki banyak kemampuan. Seumur hidupnya ia hanya mengenal hutan bakau, perahu kecil, dan kapak tua yang kini tergantung tak terpakai di sudut rumah. Ia mencoba mencari pekerjaan lain, tetapi usia dan keterbatasan tenaga membuat langkahnya terasa semakin sempit.


Sementara di rumah, ada istri dan anak-anak yang harus tetap makan.


Beberapa malam terakhir ia lebih banyak diam. Duduk di teras rumah memandangi gelap laut sambil memikirkan hari esok yang tak jelas arah. Kadang ia merasa takut, bukan untuk dirinya, tetapi takut jika keluarganya harus hidup dalam kekurangan.


Malam itu, setelah semua anggota keluarganya tertidur, Pak Mukhsin memilih bersujud lebih lama dari biasanya.


Dalam duduk di antara dua sujud itu, ia menggantungkan seluruh harapannya kepada Allah. Ia tidak meminta hidup mewah. Ia hanya ingin diberikan ketabahan hati, kesehatan untuk terus berusaha, dan jalan rezeki agar keluarganya tetap bisa hidup layak seperti dahulu.


Di matanya, seorang ayah boleh lelah, tetapi tidak boleh menyerah.


Air matanya kembali jatuh saat membayangkan wajah anak-anaknya yang masih membutuhkan dirinya. Namun di balik kesedihan itu, ada keyakinan kecil yang terus ia jaga: bahwa setiap kesulitan pasti Allah sisipkan jalan keluar.


Pak Mukhsin menarik napas panjang. Lalu dengan hati yang masih bergetar, ia kembali menundukkan badan.


“Allahu Akbar…” (sembari kembali bersujud)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar