As adalah seorang pemuda yang telah lulus kuliah setahun yang lalu. Namun hingga kini, ia belum juga mendapatkan pekerjaan yang layak. Tak ingin berlarut-larut dalam ketidakpastian, ia pun memutuskan untuk merantau, berharap nasibnya akan berubah.
Seusai berpamitan, As diantar oleh sahabatnya sejak kecil menuju pelabuhan. Setibanya di sana, ia menapaki papan-papan kayu pelabuhan yang sudah lapuk. Setiap langkah harus hati-hati, karena sedikit saja lengah bisa membuatnya terjatuh ke laut.
Tak lama kemudian, kempang yang akan ia tumpangi mulai berangkat.
Dari atas kempang, As memandang kampung halamannya untuk terakhir kali sebelum berlayar jauh.
Ia melihat seorang lelaki tua renta mengayuh sampan dengan tenaga yang kian melemah.
Tak jauh dari situ, seorang anak kecil dengan pakaian lusuh duduk diam sambil memegang kaleng bekas, berharap uluran tangan dari orang yang lewat.
Di sudut lain, seorang nenek berjualan sayur di bawah terik matahari.
Seorang pria memikul barang berat dari kapal ke tepi pelabuhan.
Sementara seorang bapak yang sedari pagi menunggu penumpang di atas becak sepedanya.
Ada pula seorang ibu yang tampak murung dan lesu karena dagangannya masih sepi.
Pemandangan itu menyesakkan dada As. Sebagai seorang pemuda yang masih menganggur, ia merasakan betapa beratnya perjuangan mereka untuk sekadar bertahan hidup. Ia pun sadar, kepergiannya bukan sekadar pilihan, melainkan keterpaksaan demi memperbaiki hidupnya dan membantu keluarganya.
Perlahan kempang pun mulai menjauh dari tanah kelahirannya, tempat yang nantinya akan sangat dirindukan.
Di atas kempang, As bertemu dengan beberapa pemuda lain yang memiliki tujuan serupa yaitu untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Salah satunya adalah Muza, yang duduk di sampingnya. Nasib Muza bahkan lebih pilu. Lima bulan lalu, ia diceraikan oleh istrinya karena dianggap tidak mampu menafkahi keluarga. Kini, mantan istrinya telah menikah dengan pria lain yang hidup lebih berkecukupan.
Tak ingin terus terpuruk, Muza memilih merantau, sama seperti As.
Sepanjang perjalanan, mereka saling bercerita. Kisah-kisah penuh luka dan harapan saling bersahutan. Mereka berbagi tentang sulitnya hidup di kampung, sempitnya peluang kerja, dan ketidakpastian masa depan.
Sekitar enam jam kemudian, kempang yang mereka tumpangi mulai mendekati kota tujuan.
Dari kejauhan, gedung-gedung tinggi mulai tampak menjulang. Semakin dekat, pemandangan kota itu semakin jelas dan terasa berbeda dari kampung mereka.
Di sana, para nelayan melaut dengan kapal bermesin dan peralatan yang canggih.
Becak-becak tak lagi dikayuh, melainkan telah dipasangi sepeda motor.
Anak-anak bermain riang di taman kota yang tertata rapi.
Suasana pasar terlihat ramai dan bersih.
Semua terlihat lebih maju, lebih hidup.
Pemandangan itu membuat As dan Muza terdiam sejenak. Dalam hati, mereka merasakan campuran harapan dan tekad.
Di atas kempang yang kian mendekati kota, lahirlah sebuah sumpah dan janji.
As dan Muza saling berpandangan, lalu mengangguk pelan.
Mereka berjanji dan bersumpah bahwa suatu hari nanti, mereka akan kembali ke kampung halaman. Bukan sebagai orang yang kalah, tetapi sebagai pribadi yang berhasil. Mereka ingin membangun kampung mereka, memperbaiki kehidupan, dan mengubah nasib orang-orang yang pernah mereka tinggalkan.
Di atas kempang itu, di tengah laut yang luas, janji dan sumpah itu terucap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar