TERJEBAK CINTA DI PENGHUJUNG SENJA


TERJEBAK CINTA DI PENGHUJUNG SENJA


Suara beduk subuh membangunkan Jang dari tidurnya. Ia segera beranjak menuju kamar mandi, berwudhu, lalu menunaikan salat. Dingin dan sunyinya waktu subuh membuat suasana terasa damai dan menenangkan.


Seusai salat, seperti biasa Jang bersiap dengan peralatan berkebunnya. Sebelum berangkat, ia singgah ke tepi sungai untuk mandi. Air yang dingin seolah memberi semangat baru untuk memulai hari.


Jang adalah seorang bujang bertubuh tegap dan gagah. Rahangnya tegas, wajahnya berkarakter, dengan tatapan mata tajam dan hidung mancung. Rambutnya panjang hingga menyentuh bahu. Pembawaannya tenang, namun tetap memancarkan wibawa.


Kebun adalah rumah kedua bagi Jang. Hamparan pohon sawit membentang sejauh mata memandang. Tak heran jika ia menjadi pria idaman banyak perempuan di kampungnya.


Namun, pagi itu terasa berbeda.


Saat berada di kebun, Jang merasakan sesuatu yang mengganggu hatinya. Perasaan itu muncul sejak subuh dan tak kunjung hilang. Ia mencoba mengabaikannya dan berjalan menuju pohon sawit yang akan dipanen.


Langit masih redup, suasana sunyi. Perasaan Jang semakin tidak menentu.


Di tengah perjalanan, ia baru ingat bahwa parang miliknya tertinggal di pondok. Ia pun berbalik arah untuk mengambilnya.


Namun, tiba-tiba,


Sosok perempuan berdiri di hadapannya.


Jang terkejut hingga terjatuh ke belakang. Jantungnya berdegup kencang. Ia belum pernah melihat perempuan itu sebelumnya di kampungnya.


Dengan perasaan campur aduk, Jang segera berlari kembali ke pondok. Sesampainya di sana, ia membasuh wajahnya, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya ilusi.


Namun dari kejauhan, perempuan itu benar-benar ada.


Ia berjalan perlahan, anggun, mendekati pondok tempat Jang biasa beristirahat.


“Jangan takut,” ucapnya lembut.


Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Jelita. Ia mengaku hanya lewat dan tertarik melihat kebun sawit milik Jang. Ia juga ingin tahu bagaimana cara memanen sawit.


Perlahan, Jang mulai tenang. Meski masih waspada, ia mencoba meyakinkan diri bahwa perempuan itu nyata.


Tanpa diminta, Jelita mengambilkan segelas air untuk Jang. Sikapnya yang lembut membuat Jang tertegun.


Percakapan mereka pun mengalir. Jang mulai merasa nyaman. Ia yakin Jelita bukanlah makhluk seperti yang sempat ia bayangkan.


Tak lama kemudian, Jang melanjutkan pekerjaannya. Ia mengajak Jelita ikut melihat proses panen sawit. Mereka berjalan bersama, berbincang, saling mengenal lebih jauh.


Di sepanjang perjalanan, Jang mulai merasakan sesuatu yang berbeda.


Jelita adalah sosok perempuan yang selama ini ia bayangkan, perempuan itu cantik, anggun, dan lembut. Cara bicaranya menenangkan. Tanpa disadari, perasaan Jang mulai tumbuh.


Sesampainya di pohon sawit, Jang mulai memanen. Jelita memperhatikan dengan saksama. Sesekali mereka saling melirik, membuat suasana terasa hangat.


Percakapan mereka semakin dalam. Jang semakin yakin bahwa ia mulai jatuh cinta dan menaruh hati pada Jelita.


Waktu berlalu tanpa terasa.


Langit mulai berubah warna. Senja perlahan datang.


Mereka kembali ke pondok untuk berkemas. Setelah itu, mereka berjalan menuju jalan pulang.


Di tepi jalan, Jelita berhenti.


“Aku harus ke arah sana,” katanya sambil menunjuk jalan menuju laut.


Jang terdiam.


Ia tahu, ke arah itu tidak ada perkampungan. Tidak ada rumah. Tidak ada siapa pun.


Perasaan aneh kembali menghampirinya.


Jang mulai menyadari sesuatu.


Perempuan yang bersamanya sejak pagi… bukanlah seperti yang ia kira.


Jelita tersenyum tipis.


Dalam sekejap, ia menghilang dari pandangan Jang.


Jang terpaku, hatinya kosong.


Perempuan yang baru saja membuatnya jatuh cinta kini lenyap begitu saja, seakan tak pernah ada.


Ia hanya bisa tertunduk lesu. Terjebak dalam perasaan yang muncul dan  menghilang penghujung senja.


Tiba-tiba,


Suara beduk subuh kembali terdengar. Jang terbangun dari tidurnya. Ia menatap sekeliling. Sunyi. Nyata.

Semua itu, hanyalah mimpi.

Namun entah mengapa, perasaan itu masih tertinggal di hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar